Saya Punya Teman

editan 1Saya punya teman, waktu mahasiswa, idealisnya minta ampun. Pembela habis kaum proletar, bicara tentang keadilan sosial juara sekali. Sedikit saja terjadi ketidakadilan, dia bisa mengamuk, membawa paham2 besar di dunia ini. Bahwa samarata, samarasa, dan samajomblo, eh, itu penting sekali.

Sekarang? Entahlah. Pekerjaannya justeru jadi penjilat cukong2 tanah. Pembela kapitalis modern. Terakhir kudengar, sesuatu yang dulu dia sangat benci sekali, tolak habis2an, sekarang malah berdiri paling depan, membelanya.

Saya punya teman, waktu di kampus dulu, bahu-membahu memberdayakan kaum miskin. Sangat dekat dengan orang papa dan tak berdaya. Berpeluh, bedebu, kusam di terminal-terminal, lorong2 kumuh. Takjub menatapnya, bahkan naik angkutan umum saja, melihat tukang asong, peminta2, teman saya ini bisa menangis karena sedih. Hafal sekali data2 kemiskinan, bahwa 29 juta sekian-sekian penduduk Indonesia masih kismin, dengan penghasilan 1 dollar pun kurang per hari.

Sekarang? Masih. Tapi bicara soal kemiskinan di hotel2 bintang 5, bicara tentang kemiskinan di forum2 luar dengan naik pesawat kelas eksekutif. Pakaiannya kinclong, sepatunya mahal, jam tangannya seharga satu rumah. Tidak pernah lagi saya lihat dia berkeringat, hanya mulut dan tulisannya saja yang berkeringat bicara kemiskinan. Terakhir, sibuk bicara tentang kemiskinan sambil nongkrong di kedai kopi yang harga segelasnya bisa 3x lipat penghasilan babu paling rendah di negeri ini sehari.

Saya punya teman, waktu masih kuliah dulu, jago sekali berdebat tentang hak-hak buruh. Aktivis sejati, pembela hak-hak pekerja. Kalau ada demo buruh, dijamin dia pasti di sana. Kalau ada ketidakadilan atas pekerja, dia berdiri di depan sana. Kalimat2nya bisa sangat jleb dan menyakinkan, mengaum buas kepada perusahaan2.

Sekarang? Saya tengok tulisan2nya, pendapat2nya, sudah berubah rupanya. Dikit2 membela perusahaan, dikit2 membela orang berduit. Kalimatnya bahkan kasar sekali kepada buruh, “Situ sih bego, kenapa cuma jadi buruh? Kenapa tidak punya skill hebat, biar bisa jadi GM, Direktur? Kalau perusahaan bangkrut, situ sendiri yang susah kan? Pengangguran.”

Waktu memang melesat cepat dan membuat orang banyak berubah. Saya tidak sedang membahas kalian, tenang saja, tulisan ini hanya membahas teman2 saya. Tidak usah merasa tulisan ini menyindir kalian. Toh, semua orang berhak untuk berubah.

Saya punya teman, mereka sudah jadi orang2 hebat semua hari ini. Entah, apakah mereka masih rindu dengan diskusi2 hangat di lorong2 kampus. Masih rindu dengan antusiasme kepedulian di meja2 kantin murah meriah kampus. Masih ingat dengan nasi gratis yang disediakan Fakultas. Masih ingat dengan makan dua kali sehari karena berhemat. Masih ingat dengan makan mie rebus berhari2 karena hanya itu yang tersisa.

Semoga masih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s